Saya dilahirkan, tanpa dapat memilih, dari rahim seorang ibu suku Jawa, warga Negara Indonesia. Ayah meninggal dibunuh tentara Jepang sekian puluh tahun yll. Saya lahir di Semarang, dibesarkan sampai SMA di Solo. Mungkin kalau saya dilahirkan sebagai orang Cina di Beijing atau orang Arab di Madinah sana, atau se-tidak2nya sebagai orang Sumatra Barat / Minang, ceritaku dibawah ini akan berbeda.
Waktu kecil ibuku bekerja sebagai bidan di Rumah sakit PKU Muhammadiah Solo, tetapi waktu SD saya (saya nggak tahu alasannya, mungkin hanya karena sekolahannya dekat dengan rumah) disekolahkan ibu di SD Kristen Protestan sehingga dengan sekolah minggu yg rajin saya lakukan saya tahu bagaimana pemeluk Kristen Protestan meyakini kepercayaannya, dan saya selalu ikut berdoa dengan liturgi agama tsb. Saya tahu sekali siapa Tuhanku dan Tuhan teman2ku waktu itu.
Setelah saya menjadi tua, akhir2 ini saya baru tahu kalau apa yang dilakukan ibuku adalah dosa besar dan nerakalah tempatnya. Itu yang saya dengar dari khotbah2 di masjid waktu sholat Jumat dan membaca situs2 yg Islami. Seharusnya ibuku tidak menyekolahkan aku disekolah orang2 Kafir. Meskipun demikian, saya yakin ibu saya tidak akan masuk neraka, saya telah mohon ampunan kepada Allah dan saya percaya akan dikabulkan karena Allah maha pengampun dan maha penyayang.
Kemudian saya masuk SMP Negri yang tidak memberikan pelajaran Agama, melainkan Budi Pekerti. “Kekristenan” saya mulai luntur. Kolom agama kalau mengisi setiap formulir diisi “Islam” meskipun saya tidak bisa sholat, apalagi ngaji!! Ibuku juga tidak pernah menyuruh saya belajar sholat. Dan saya berteman dengan orang2 yang kurang lebih sama kelakuannya. Namun demikian saya tetap percaya dan yakin se-yakin2nya kalau Tuhan itu ada dan Maha segalanya. Saya selalu berdoa dan minta apapun kepada Nya, tentu saja dengan cara saya sendiri dan berdo’a memakai bahasa Jawa……Setelah tua, akhir2 ini saya baru tahu kalau yang mengaku Islam, wajiblah melakukan ibadahnya secara Islam yang benar menurut syariatnya. Jangankan memakai bahasa Jawa, yang memakai bahasa Indosiapun diprotes disana sini dan malah berurusan dengan Polisi.
Lulus SMP saya masuk SMA Negri. Keadaan “kepercayaanku” tidak berubah dan aku yakin kalau yang aku lakukan untuk “berkomunikasi” dengan Tuhan adalah benar. Teman2 sekelasku yang Islam banyak, tapi merekapun hanya sedikit yang sholat, hanya mereka yang tinggal didaerah “Kauman” tempat tingalnya para Ulama dan santri dan “Pasar Kliwon” yang kebanyakan orang keturunan Arab. Tetapi saya merasakan saya tidak ada masalah dengan mereka dan merekapun baik2 saja denganku waktu itu. Saya tidak merasa dikucilkan, apalagi dizolimi. Saya bersyukur bahwa saya tidak mempunyai “nafsu” untuk mencari pengikut atau ber-teriak2 keyakinanku adalah benar dan kalau itu saya lakukan saat ini, maka pastilah akan ada fatwa sesat untuk “keyakinan”saya.
Selesai SMA, saya kuliah di ITB. Karena perguruan tinggi ini bertaraf “Nasional”, maka mulailah saya bergaul, mengenal, melihat dan berinreaksi dengan berbagai kepercayaan, keimanan, keyakinan, bukan saja yang bersifat “agama” tetapi juga yang bersifat “idiologi”. Saya bergaul dengan teman2 mahasiswa anggota HMI (Islam), GMKI(Kristen Protestan), PEMKRI( Katholik), dan……CGMI (Komunis)
Pada saat2 itulah saya mulai tahu bagaimana orang meyakini kepercayaannya, dan mengimani keyakinannya. Termasuk juga saya tetap percaya bahwa keyakinan yang saya anut adalah benar. Semua menganggap benar keyakinannya, dan itu ternyata wajib hukumnya bagi semua keyakinan, kepercayaan dan keimanan. Walaupun tidak semuanya secara tegas menyatakan hal tersebut.
Setelah tua sekarang dan belakangan ini, saya baru tahu bahwa menurut ceramah2 beberapa Ustadz dan yang saya baca disitus Islami, menyamakan semua keyakinan, dan menganggap semua keyakinan baik semua adalah haram hukumnya, bahkan sampai2 adalah haram kalau kita mengucapkan selamat kepada pemeluk kepercayaan lain pada waktu merayakan hari rayanya. Hal ini dianggap kita ikut meyakini atau menganggap benar keyakinan lain tsb. Dan hal ini merupakan juga “ukuran” keimanan kita. Keimanan kita masih “diragukan” kalau masih ikut2an mengucapkan selamat tersebut.
Keyakinan hukumnya wajib dibela, sampai mengorbankan jiwa kalau perlu. Seorang teman saya anggota CGMI (kader PKI) rela ditembak mati oleh RPKAD ( sekarang KOPASUS) karena keyakinanya membela Marxisme pada waktu peristiwa G30S. Saya nggak tahu kemana arwahnya tinggal sekarang, kenerakapun mungkin tidak, apalagi sorga, karena semasa hidupnya dia tidak percaya kalau ada sorga dan neraka!!
Ini pasti beda dengan Imam Samodra yang juga akan dihukum mati nanti. Dia haqul yakin kalau dia telah melakukan perjuangan dijalan Allah, dan sorgalah tempatnya!! Disitus Arrahmah.com, banyak yang mengagumi keberanian Imam Samodra dkk. Mereka memanggilnya Ustadz Imam Samodra dan apa yang dia lakukan perlu diteladani para mujahidin yang lain!! Ini juga salah satu contoh yang disebut keyakinan.
Yang saya lihat, kiyakinan, kepercayaan dan keimanan sering menjadi banyak sekali “cabang2nya” yang menurut saya karena “nafsu” manusialah ini bisa terjadi, nafsu menjadi panutan yang benar, dan nafsu mendapakan pengikut paling banyak.sehingga bisa “berpangkat” sebagai Imam, Habib, Ulama, Pendeta, Paus, Kardial, dll.
Sampai sekarang saya masih belum paham benar beda Sunni dengan Siah, beda Syafii dengan Hambali .Kalau lebih kesini lagi saya makin tidak mengerti apa beda keyakinan pengikut2 kelompok/aliran/perkumpulan ataupun gerakan Nahdatul Ulama, Muhamadiah ,LDII, PKS, FPI. Hidayatullah, Hizbut Tahrir, Paramadina Dll. Yang saya tahu pasti mereka semua meyakini bahwa apa yang dilakukannya adalah yang paling benar dalam menjalankan perintah Allah. Perbedaan2 menjadi semakin runyam ketika keyakinan dicampur adukkan dengan pemikiran manusia, sehingga timbullah kelompok2 semacam JIL, Orientalis, Pluralis dll.
Dari semua itu apa yang saya lihat disana hanyalah “nafsu” manusia seperti yang saya sebut diatas. Nafsu untuk meminjam tangan Allah untuk menghakimi yang lain yang dianggap salah.
Keyakinan, kepercayaan, keimanan memang sesuatu yang tidak dapat disentuh, apalagi dilecehkan. Keyakinan harus dihormati, bahkan orang lainpun harus menhormati. Orang akan marah bahkan sampai dihalalkan untuk membunuh apabila keyakinannya dilecehkan. Warung makan diobrak abrik orang karena buka dibulan puasa, karena dianggap tidak menghormati bulan puasa. Demo dimana mana waktu ada kartun Nabi Muhammad SAW memakai sorban bom. Itu sedikit contoh orang minta keyakinannya dihormati. Tapi saya selalu bertanya, apakah kalau ada orang sedang berpuasa, lalu didepannya ada oang makan apakah keimanannya menjadi goyah? Apakah bukan malah keimanannya menjadi lebih tebal karena bisa melawan godaan? Lagi2 semua itu saya lihat sebagai “nafsu” manusia yang ingin dihormati kemudian meminjam nama Tuhan untuk memhukum yang tidak menghormati. Saya membaca tulisan seorang Ustadz disitus Eramuslim.com bahwa kata2 RIP ( Rest In Peace ) untuk orang Kristen yang meninggal adalah salah, katanya yg benar adalah Rest In Hell karena orang yg meninggal tadi tidak dalam keadaan beriman Islam. Pak Ustadz mengatakan yg benar menurut saya karena dia mengatakan berdasarkan keyakinan yg diimaninya. Tetapi apa kata orang Kristen? Pasti sebaliknya. Selama nafsu manusia tidak ikut campur dalam perbedaan ini tak akan terjadi apa2, tetapi apabila nafsu manusia sudah timbul, maka bisa dibayangkan apa yg akan terjadi.
Yang saya tahu pasti, antara satu keyakinan dan keyakinan yang lain, meskipun tidak terbuka, saling menganggap remeh, menganggap lucu, menganggap aneh dan bodoh, malah kadang2 timbul rasa kasihan. terutama kalau saling menyaksikan cara mereka melakukan ritual keyakinannya.
Apa yang terlintas difikiran orang Islam kalau melihat orang2 India mandi ber-desak2an disungai Gangga untuk melukan ritual keyakinanya? Apa anggapan orang Katholik kalau melihat orang2 Bali tiap hari buat sesajen didepan batu sesembahannya? Bagaimana pendapat orang Kristen Protestan melihat orang Cina didaratan RRC yang jumlahnya 1 milyar lebih sedang menyembah dewa2 dikelenteng dengan membakar dupa?
Orang nonmuslim banyak yang menganggap pergi haji itu cuma ditipu orang2 Arab saja, mau2nya disuruh desak2an, cuma untuk nglilingin batu saja. Disuruh bayar mahal lagi.dan menjadi lahan subur korupsi. Pemerintah Arab Saudi telah melebarkan jalur untuk melakukan Sya’i dan tempat melempar Jumrah sekarang sudah 3 tingkat untuk menampung “customer” lebih banyak, begitu ejekannya.
Pada jaman Komunis masih subur dulu, mereka selalu berpropaganda bahwa agama ( apa saja ) adalah ibarat candu, narkoba yg memabokkan dan menjadikan orang ketagihan. Makin dalam orang belajar agama, kata propaganda tadi, maka makin ketagianlah mereka dan makin tidak majulah orang tersebut, terkungkung seperti katak dalam tempurung katanya dan tidak “revolusioner” untuk mengganyang imperialisme dan kapitalisme barat, yang mana “perjuangan” ini belum sempat berhasil keburu komunisme bubar. ( konon perjuangan ini belakangan saya baca telah “diteruskan” oleh gerakan2 Islam, meskipun alasannya lain )
Saya yakin sekali, kalau manusia dapat mengendalikan “nafsunya”, maka celotehan2, ejekan2, propaganda2 semacam yang diatas tidak akan mempengaruhi keimanannya. Justru akan lebih mempertebal keimanan kita.
Selesai kuliah saya bekerja dan alhamdulillah karir saya menanjak terus ( saya kerja di perusahaan swasta PMA ) sampai2 saya mendapatkan tugas yg harus mengunjungi banyak negara2 lain dan harus bermukim sementara disalah satu negara2 tsb. Pekerjaan saya inilah yang membuat saya banyak mendapat kesempatan melihat, mengenal, banyak sekali jenis kepercayaan , keyakinan, kepercayaan yang ada didunia ini. Makin dekat aku dengan orang2 yang berkeyakinan dan berkeimanan lain, makin saya dapat mengerti mereka dan saya makin menghormati mereka tanpa harus mengurangi keimanan terhadap keyakinanku, bahkan saya merasakan bahwa keyakinanku adalah yang paling benar sehingga saya makin merasa dekat sekali dengan Allah.
Saya senang sekali bekerja sama menyelesaikan pekerjaan dengan orang2 yang menurut keyakinan saya sisebut sebagai orang2 Kafir itu. Mereka bekerja tanpa melihat saya berkeyakinan apa. Dinegri tempat saya bekerja ini, para calon penghuni sorga bekerja sama bahu membahu dengan orang2 yang bakal masuk neraka jahanam untuk membangun negrinya, menjaga ketertiban dan menjunjung tinggi dan mematuhi aturan2 yang dibuatnya dan berhasil. Seorang Ustadz didalam sebuah situs menyebut negri tsb sebagai negri yg Islami tanpa ada ( sedikit ) Muslim disana. Bagaimana tidak, orang2 duafa, anak yatim, orang cacat disantuni oleh Negara bukan hanya dihari Idulfitri saja dan hak2nya sama dengan warga yang lain. Rumah sakit dan sekolah sampai tingkat tertentu gratis. Tidak ada korupsi dan aman karena hukum berjalan dengan baik.
Tujuh tahun yll. saya berangkat menunaikan ibadah haji, tetapi karena kesibukan2 pekerjaan saya terpaksa melakukannya dengan program ONH Plus, yang sebenarnya menurut saya ini adalah hasil reka2an manusia yang bermotivasi bisnis dengan selimut membantu orang sibuk (tapi berduit) untuk beribadah. Tapi lagi2, saya beryakinan bahwa saya benar untuk berhaji dengan cara ini, meskipun cukup banyak Ustadz yang menganggap cara ini “kurang afdol”. Saya tidak mempedulikan pendapat para Ustadz itu, karena pada akhirnya Allah lah yang Maha berhak menilainya, itu keyakinan saya.
Karena saya ikut program ONH Plus, maka teman2 dalam kelompok saya adalah orang2 yang punya status sosial papan atas. Kebetulan saya tinggal selama di Mekah berempat dalam satu kamar hotel, kecuali saya ketiganya adalah CEO dan Pres Dir dari berbagai perusahaan swasta. Saya nggak tahu mereka itu Islam aliran apa, golongan apa. Mazap apa . Saya nggak mau tanya, karena saya nggak mau tahu. Yang saya pasti, mereka punya keyakinan yang mereka percayai kebenarannya.
Yang paling mengesankan dengan mereka adalah cara mereka perpikir. Pada suatu malam selepas kami berempat menunaikan tawaf sunnah, kami ngobrol2 membicarakan apa yg terjadi 50 thn yad, membayangkan betapa sulitnya melakukan tawaf mengingat jumlah Muslim didunia ini terus bertambah, karena tidak semua orang Muslim bisa menerima anjuran KB. ( saya jadi teringat banyak Ustadz2 ternama kita yg menjadi panutan umatnya anaknya bererot!! Itulah juga salah satu contoh keyakinan juga!!)
Tiba2 salah satu teman saya tadi punya “ide”. Katanya begini: Ditahun duaribu sembilan puluh nanti, Pemerintah Arab Saudi pasti akan merubah cara melakukan tawaf. Kalau sekarang orang berjalan mengelilingi Ka’bah, nantinya dengan kecanggihan teknologi, Ka’bahnya yang diputar 7 kali dan orangnya tinggal berdiri diam atau sambil baca doa tawaf. Ini akan menghemat waktu, sehingga jumlah orang yang akan melakukan tawaf dalam satu hari akan jauh lebih banyak dan tidak perlu ber-desak2an!!
Waktu saya pulang, saya ceritakan hal itu kepada banyak orang, ternyata komentarnya sangat ber-macam2 dan ternyata semua tergantung bagaimana cara mereka meyakini “keIslamannya”, ada yg marah, ada yang memuji, ada yang “menghakimi” dan ada yang biasa2 aja, malahan tertawa!!
Sepulang Ibadah Haji, saya makin merasakan bahwa keyakinan saya adalah benar, saya makin merasakan makin dekat dengan Allah dan saya akan tetap memakai caraku sendiri.
Saya akan menjaga untuk menghormati semua keyakinan yang lain dariku dan akan terus mengucapkan selamat apabila mereka sedang berbahagia dihari rayanya, tanpa harus membenarkan keyakinannya.
Katakanlah, hai orang2 kafir, aku tidak menyembah apa yang kamu sembah. Kamu tidak menyembah Tuhan yang aku sembah. Aku bukan penyembah apa yang kamu sembah. Kamu bukanlah penyembah Tuhan yang akau sembah.
Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku.!!!
Idra BSD.